Loading...

Tradisi Naskah Ka-ga-nga

Jumat, 07 November 2008

JIKA berkujung ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, 16 Ilir, Palembang, pada sebuah etalase terpampang dua buah gelondongan bambu yang terdiri dari beberapa ruas. Dan jika dicermati, pada ruas-ruas bambu itu terlihat goresan rapi laiknya deretan huruf-huruf. Petugas museum akan mengatakan itu huruf bari yang disebut Ka-Ga-Nga dan benda gelondongan bambu itu merupakan salah satu peninggalan tradisi nenek moyang orang Sumatra Selatan yang dikenal dengan nama Surat Ulu.

Benda serupa akan pula dijumpai di Museum Balaputra Dewa, Jalan Srijaya Km. 5,5 Palembang. Pada Gedung II yang merupakan rekam-jejak Kerajaan Sriwijaya dan Kesultaan Palembang terdapat sebuah etalase yang memamerkan Surat Ulu. Bedanya, selain gelondongan bambu (satu ruas saja), terdapat pula bilah-bilah bambu yang dirangkai menyerupai kipas dan disebut sebagai gelumpai, dan kakhas yakni naskah dari kulit kayu yang ditulis juga dengan Aksara Ka-Ga-Nga. Gelondongan bambu beraksara Ka-Ga-Nga tidak jarang disebut juga sebagai gelumpai.


Di Balik Gelumpai
Kata “gelumpai” mungkin sedikit orang yang pernah mendengarnya. Gelumpai adalah sebutan untuk naskah kuno dari bambu di Sumatra Bagian Selatan. Naskah semacam ini masih banyak ditemukan setidaknya di dalam wilayah provinsi Sumatra Selatan dan Bengkulu. Juga di museum-museum dalam dan luar negeri. Di Jakarta dijumpai berjumlah puluhan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI).

Peninggalan nenek moyang ini merupakan bukti khasanah tradisi intelektual masa lalu bangsa kita. Seperti lazimnya naskah, gelumpai mempunyai teks atau isi naskah. Namun, sesuatu yang khas dari gelumpai adalah aksaranya yang khas, yang disebut sebagai Huruf Ka-Ga-Nga, Rencong, atau Huruf Ulu. Aksara ini memiliki banyak varian dan konon telah ada pada masa Kerajaan Sriwijaya. Di wilayah Sumatera Selatan Huruf Ulu dipergunakan oleh masyarakat daerah pedalaman atau daerah hulu (uluan) sungai. Oleh karena itu ia disebut sebagai Huruf Ulu.

Dalam ranah Filologi, penelitian terhadap gelumpai masih jarang dilakukan karena sudah semakin sedikit yang dapat mengenali huruf ini. Salah seorang yang sangat tekun dan menghasilkan penelitian akademik yang banyak dan bermutu adalah Sarwit Sarwono, dosen dan peneliti pada Universitas Bengkulu yang banyak meneliti naskah-naskah dari daerah Bengkulu. Hasil-hasil penelitiannya telah memberikan landasan ilmiah yang sangat berarti bagi perkembangan penelitian selanjutnya. Penelitian masa lalu diperlukan untuk menguak apa yang terdapat di balik benda peninggalan nenek moyang kita masa lalu sehingga mampu survive dalam kehidupan hingga menurunkan generasi sekarang. Jejak masa lalu kita adalah jatidiri yang menjadi bekal bagi kita dalam kehidupan global saat ini, di mana setia bangsa berusaha keras memperkuat jatidiri dengan “menengok ke belakang” guna “menjemput masa depan”.

Naskah Kuno dan Aksara Ulu
Naskah kuno merupakan salah satu hasil budaya bangsa yang perlu dilestarikan dan dimanfaatkan. Kegunaan itu antara lain sebagai bahan untuk mengetahui atau memeroleh informasi mengenai nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah. Sebagai hasil karya nenek moyang masa lalu, naskah memuat banyak hal sebagai bahan untuk membentuk dan memperkokoh jati diri bangsa.

Untuk mengetahui isi dan makna naskah pertama-tama tentulah mengetahui tulisan yang dipergunakan dalam naskah itu. Tulisan atau budaya tulis merupakan sarana untuk menyampaikan maksud dan mewariskan kebudayaan suatu masyarakat. Untuk keperluan itu, masyarakat Sumatra Selatan telah memiliki tradisi tulis sejak lama, setidaknya hal itu dapat dilihat dari tulisan yang terdapat dalam prasasti-prasasti Sriwijaya yang ditemukan di Palembang dan sekitarnya sejak abad ke-7 M. Sejak masa itu, tradisi tulis terus berkembang dengan banyak ditemukannya artefak berbentuk tulisan, termasuk naskah, dengan beberapa jenis huruf, seperti huruf Arab, (termasuk Arab Melayu/Jawi), Ka-Ga-Nga (huruf Ulu/Rencong), Jawa, dan Latin, di samping huruf Pallawa pada prasasti-prasasti Sriwijaya.

Di Sumatra Selatan terdapat banyak naskah yang belum tergali isi atau maknanya. Ada sebagian kecil naskah yang pernah digarap secara baik, antara lain Makkota Raja-raja Melayu oleh Dr. Panuti Sujiman, Hikayat Syek Muhammad Saman oleh Uum Gatot, Sairu s-Salikin oleh Abu Hanifah, Al Zahri al Basyimi fi Riabil Kasim oleh Surip Suwandi, Syair Perang Menteng oleh drs. Atja, dll. Sebagian kecil manuskrip juga telah ditransliterasi oleh beberapa peneliti dan pemerhati di daerah. Naskah Gelumpai antara lain pernah digarap oleh Suwandi dari Linggau dan A. Rapanie Igama dari Palembang. Demikian pula beberapa mahasiswa telah melakukan penelitian naskah untuk keperluan skripsi. Selebihnya, banyak naskah kuno yang masih “tertidur” di perpustakaan, museum, dan rumah-rumah penduduk.

Seperti telah disinggung di atas, naskah-naskah kuno yang ditemukan di Sumatera Selatan menggunakan berbagai bahan. Ada kecenderungan naskah-naskah yang berhuruf latin dan Arab Melayu menggunakan bahan kertas, sedangkan yang beraksara Ka-Ga-Nga menggunakan bahan bambu dan kulit kayu (kakhas). Bahan-bahan lain juga dipergunakan seperti rotan, lontar, kulit hewan, dan tanduk. Di luar naskah, pada prasasti terdapat bahan dari batu, lempengan tembaga dan kayu. Salah satu yang yang menarik juga ditemukannya swarnnapattra, yakni prasasti kecil menyerupai secarik kertas dari bahan emas. Dalam pengertian keilmuan, sering dibedakan antara prasasti dan naskah berdasarkan bahan tempat menuliskan huruf. Tulisan di atas batu dan logam merupakan prasasti (inscription), sedangkan di atas kertas, glondongan atau bilah bambu, kulit hewan, kulit kayu, dan lontar lebih dikenal sebagai naskah (script/manuscript). Namun batasan fisik itu kurang berarti mana kala dilakukan upaya pengkajian terhadap teks (textual).

Naskah-naskah kuno Sumatra Selatan ditulis dalam berbagai aksara seperti Arab Melayu untuk naskah-naskah dalam bahasa Melayu, huruf Arab untuk naskah-naskah berbahasa Arab, aksara Jawa dalam bahasa Jawa (khususnya Jawa Tengahan), dan yang cukup banyak berasal dari pedalaman (hulu) adalah naskah-naskah beraksara Ka-Ga-Nga atau Huruf Ulu. Di masing-masing daerah dikenal dengan nama Huruf Komering, Huruf Ogan, Huruf Rejang, Huruf Pasemah, dll. Huruf serupa juga terdapat di Bengkulu, Jambi, dan Lampung.

Menurut para sarjana Barat, seperti yang ditulis Sarwit Sarwono, aksara Ka-Ga-Nga di wilayah yang kini secara administratif masuk provinsi Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan, sedikit banyak menunjukkan perbedaan. Namun demikian, Sarwit Sarwono berpendapat bahwa bentuk aksara-aksara di daerah-daerah tersebut dapat dikembalikan pada struktur yang sama, yakni pada kesamaan urutan dan bangun elemen-elemen yang membentuk aksara.

Perbedaan aksara yang terdapat dalam naskah-naskah yang menggunakan aksara Ka-Ga-Nga, atau yang disebut dalam tulisan ini sebagai “Naskah Ulu” terutama pada variasi bentuk aksaranya. Hasil penelitian awalnya Sarwit Sarwono menurunkan tabel aksara seperti di bawah ini (lihat Tabel 1).



Variasi bentuk tersebut menurutnya sebagian besar juga dijumpai tabel yang disusun oleh sarjana Barat seperti Holle (1882), Westenenk (1920, 1921), Jaspan (1964), Helfrich (1904), dan Voorhoeve (1971).

Selain variasi aksara, agar terbentuk bunyi lain dalam sebuah simbol aksara, sistem aksara ini juga mengenal bebeberapa bentuk dan fungsi sandangan (lihat Tabel 2).



Naskah Ulu pada atau dari bambu dijumpai dalam bentuk bilah-bilah bambu dan gelondongan bambu. Teknik yang dipergunakan dalam penulisan adalah teknik gores menggunakan benda keras dari besi, semacam pisau kecil. Naskah bilah-bilah bambu disebut sebagai gelumpai, namun belakangan ini nama “gelumpai” juga dilekatkan pada naskah gelondongan bambu. Naskah-naskah dalam aksara ulu ini juga disebut oleh masyarakat dengan berbagai nama, seperti naskah Kegenge, serat ulu, surat ulu, gelumpai untuk naskah bambu, dan kakhas atau kaghas untuk naskah dari kulit kayu.
Kata “Ulu” dilekatkan pada naskah-naskah ini dimungkinkan karena tradisi tulis menggunakan aksara ini tersebar dan dahulu berkembang di daerah pemukiman di hulu-hulu sungai atau disebut daerah ulu. Dengan demikian produk tulisannya disebut surat ulu atau serat ulu.

Seperti telah dinyatakan di atas, aksara Ka-Ga-Nga pada bambu ditulis dengan teknik gores. Dalam sebuah tesis pada Universitas Indonesia, Nunuk Juli Astuti melakukan kajian Paleografis terhadap aksara ini dengan objek penelitian naskah Serawai dan Pasemah. Penelitian ini sesungguhnya antara lain memberikan gambaran bagaimana aksara ditulis dengan urutan-urutan yang sudah menjadi konvensi. Sekalipun yang diteliti naskah Serawai dan Pasemah namun kecenderungan menunjukkan hasil penelitian ini berlaku untuk semua varian aksara Ka-Ga-Nga.

Naskah Museum SMB II
Dari hasil pembacaan teks di atas belum dapat diungkapkan secara terinci maksud teks dalam naskah ini. Hal itu disebabkan oleh banyak kata-kata yang arkaik dan sulit dipahami artinya. Selain itu, keadaan naskah kurang baik menyulitkan untuk memperoleh kata-kata yang untuk untuk dilakukan rekonstruksi kalimat. Oleh karena itu, taks ini memerlukan pengkajian lebih jauh dari aspek filologisnya, baik secara kodikologi maupun kajian teks (tekstologi).

Teks berbentuk tanya jawab dengan berbagai pengulangan dan tampaknya disusun dalam bentuk menyerupai syair bebas. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat masa lalu memiliki kehidupan sastra (lama) sebagai bagian dari ekspresi masyarakat. Sastra lama itu dipergunakan sebagai bagian dari usaha pengajaran agama (Islam).
Secara umum naskah ini berisi tentang gagasan kehidupan dan keimanan. Teks disusun dalam bentuk tanya jawab antara ulama/guru (kayayi/kiyai) dengan seseorang (murid/penulis naskah/ricang). Tanya jawab itu menyangkut keimanan, ketuhanan, hari kiamat, dan alam semesta. Ajaran/syiar itu antara lain menyebutkan bahwa iman ada di hati, iman bukan hanya di tubuh manusia. Tubuh manusia hanyalah tempat bersarangnya nyawa dan nyawa harus diisi dengan iman agar dapat mencapai tempat yang sebenar-benarnya (sorga) setelah meninggalkan jasad.

Iman diawali dengan membaca kalimah sahadat. Iman itu yang menggerakkan seluruh tubuh. Pada hari kiamat semua kembali kepada Tuhan (Tuwan) dengan caranya sendiri-sendiri. Semua perbuatan dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri di hadapan Tuhan. Hari kiamat adalah tempat kembali yang sebenarnya. Untuk menuju ke tempat manusia yang sebenarnya itu diperlukan (menggunakan) iman. Dua kalimah Sahadat adalah batang iman, dan ilmu adalah inti keimanan.

Alam semesta diciptakan oleh Tuhan, ditandai antara lain dengan adanya siang dan malam. Siang ada matahari dan malam ada bulan yang diciptakan oleh Tuhan. Oleh karena itu manusia diwajibkan menyembah penciptanya.

Berikut ini petikan isi teks:
benarla ujar ngawarang
takale manyit tarengkur .....
(mandak) kepade sipat
di atas bumi pundarran manyit
iman mandak di jasat
napas kambali ke sangkar
kayayi batanye dimane
sangkarran napas iman kasebar...
kapade nyawe kayayi ricang betanye
manenye padoman (ucappan)
dimanenye kangaran batang iman
dimanenye kangaran biji iman
benarla ujar ngawarang padeku
pademan langgang sananye
pandoman .... (be la me ku)
kalimasadat baname batang iman
yelemu bename biji iman



Gelumpai Berbahasa Jawa
Gelumpai lazimnya menggunakan bahasa daerah setempat. Ada beberapa bahasa yang dipakai antara lain bahasa Serawai, Ogan, Musi, Pasemah, Lampung, Kerinci, dan Komering. Namun demikian, salah satu gelumpai yang tersimpan di Museum Balaputra Dewa, Palembang, tidak menggunakan salah satu bahasa lokal (daerah uluan) setempat, melainkan bahasa Jawa. Sayang naskah ini tidak memiliki riwayat yang lengkap sehingga belum dapat dipastikan kurun waktu dan mengapa bahasa Jawa dipakai dalam naskah yang menggunakan aksara Ulu. Namun demikian, berdasarkan dugaan yang masuk akal, naskah tersebut kemungkinan diproduksi pada masa Kesultanan Palembang Darussalam atau sekitar abad ke-19 M.

Seperti kita ketahui, Kesultanan Palembang Darussalam merupakan salah satu pusat pengembangan agama Islam di Nusantara pada masanya. Kerajaan ini menggunakan bahasa Jawa (yang kemudian berkembang menjadi bahasa Palembang Alus atau Bebaso) pada awal perkembangannya. Bahkan aksara Jawa pun dipakai dalam piagem (piagam) kesultanan yang berisi perintah atau peraturan dari sultan dan diberikan kepada para prawatin (pemangku adat) di daerah uluan untuk ditaati.

Gelumpai berbahasa Jawa yang ada pada Museum Balaputra Dewa tersebut berisi tentang Nabi Muhammad SAW dan keajaiban (mukjizat) yang yang dimilikinya. Teks dalam gelumpai ini antara lain menyatakan (1) nabi Muhammad merupakan utusan Allah (nabi) terakhir dan pembawa Al Quran yang akan menuntun manusia untuk mendapatkan nikmat yang banyak seperti wahyu Tuhan dalam Surah Al-Kawsar. Nabi Muhammad juga pembuka bagi manusia yang ingin memeluk Islam dengan mengucap dua kalimah syahadat; (2) Nabi Muhammad merupakan keturunan Nabi Adam dan masih satu keturunan dengan Nabi Ibrahim yang menjadi pemula bagi kemajuan bangsa Arab; (3) Nabi Muhammad memiliki sifat-sifat mengasihi sesama manusia, seperti kaum miskin, anak-anak, janda, sanak keluarga, dan manusia pada umumnya. Demikian pula nabi menyayangi semua mahluk termasuk hewan seperti kucing; (4) Nabi digambarkan memiliki wajah yang bersinar, perawakan yang tegap, dan penggambaran fisik lainnya yang menuntun kepada pujian terhadap kesucian dan kebersihan rohaniah nabi; (5) keistimewaan nabi jika dibandingkan dengan manusia lain, seperti dapat menyembuhkan penyakit, mendatangkan air dari dari sela-sela jarinya (menyejukkan hati dengan berdoa menengadahkan kedua tangan), dan permintaan nabi Muhammad yang selalu dikabulkan Allah.

Sekalipun teks gelumpai tersebut dapat dipahami, namun sangat disayangkan naskah ini tidak lengkap. Indikasi itu ditandai dengan cerita yang terputus dan ada beberapa penanda bilah (sebagai nomor urut) yang tidak dijumpai.

Berikut ini antara lain petikan teks gelumpai tersebut:
Bismillahirrahmanirrahim. Adapun nabi muhammat puniku utusan ning ollah kang sabeneri kakasihhanning ollah sabenering nabi kabih lan pangnguluning nabi kabih lan panguluning nabi kabih.... Lan angasihi ing mukmin lan angapura sasakihing dusa manusiya ingutus dining ollah....Lan ananing muhammat puniku amaji puji tanpo gat. Lan luwih pakinak bangsa nira saking arob dining anduwini ing mekah. Lan muhammat punika anggin nira amijil ing madinah suku ning gunung. Kang ibu aminah kang ramajalu abdullah asal nira wong arob.

Adanya gelumpai ini menunjukkan bahwa pada masa itu terdapat kehidupan budaya yang berbaur antara kebudayaan lokal (pada aksaranya), Jawa (bahasanya), dan Islam (isinya). Hal itu memungkinkan terbentuknya kehidupan yang multikultural, atau setidaknya cukup adaptif dan toleran terhadap berbagai kebudayaan. Suatu ciri yang sebetulkan menjadi akar budaya bangsa dan gejala yang merata di Nusantara. Jauh sebelumnya, kehidupan toleransi beragama pada masa Majapahit juga dimungkinkan terjadi di Sriwijaya dengan ditemukannya situs percandian Bumiayu yang beragama Hindu, yang berlokasi tidak jauh dari pusat penemuan situs Budha di Palembang.

Pesan-pesan kearifan yang terkuak melalui pengkajian kebudayaan kita merupakan modal bagi penguatan jati diri bangsa demi menjaga nasionalisme. Studi kekerabatan daerah-daerah di Indonesia adalah salah satu cara untuk menemukan nilai-nilai yang merekatkan bangsa dan menjauhkan dari perpecahan. Nasionalisme harus dibangun dari kebudayaan. Perubahan kebudayaan adalah penyesuaian antara jatidiri bangsa dan perkembangan peradaban manusia.

Sebagai akhir dari tulisan ini, di era Otonomi Daerah ini, diperlukan kerja sama atau pertukaran penelitian yang diprakarsai bersama oleh daerah-daerah. Perlu ada regulasi (peraturan) atau sekurang-kurangnya dorongan politis oleh pemerintah pusat agar terbentuk intensitas kerja sama penelitian kebudayaan antardaerah yang diprogramkan oleh pemerintah daerah. [*]

Pekerja seni, kurator Museum, Pamong Budaya Ahli Madya. Alumnus Fak. Sastra UGM, Yogyakarta, dan kini sedang menempuh studi Pascasarjana di Program MMPS, Sosiologi FISIP UI. Mobile 0858 85825445.

0 komentar:

About This Blog

About This Blog

  © Blogger template Columnus by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP